perjalanan minimalisme : menggunakan budget

Dari semua kriteria, yang paling susah adalah masalah budget ini, aku masih terus usaha dan berdisiplin, biar si “miscellaneous” things on my budget gak bertambah, tapi susah karena di Indonesia ikatan silaturahmi itu kuat banget (lho apa hubungannya?) artinya kunjung mengunjungi antar keluarga itu penting, yang kadang-kadang itu gak bisa kita prediksi biaya nya, misalkan kondangan, arisan, eceuuu arisan keluarga, arisan temenan, arisan ibu-ibu sekolahan, mengunjungi si ini dan si itu, itu masalah terberat ku jadi koq biaya mengalir sampai jauhhhh… karena biaya konsumsi pertemuan.

 

Tapi tetap lah engkau berbudget kawan, itu penting untuk membangun kepercayaan antar pasangan. aku sampai sekarang selalu catat yang sudah dikeluarkan, apalagi sekarang ada fitur aplikasi di android gitu yang mudahin kita memorize dan otomatis kelihatan berapa yang udah kita keluarin. pas sesekali aa tanya masih ada gak cash kita, aku sudah ada catatannya uang keluar buat apa aja. doi gak pernah ngelarang buat belanja sampai sekarang, justru dia banyak nahan yang dia pengen demi istrinya bisa belanja karena dia over the years know uang yang ada di aku pasti either aku puter bisnis atau investasi. jadi dia gak pernah rugi siyh.

 

dari berbudget itu nantinya kelihatan aku dah keluar seberapa yang bisa bikin kamu shock, ngontrol belanja ke “what i really..really need”, “does it really important” terus biasanya abis itu aku jadi mikir, gilee.. this is too much for me.  terus liar deyh ih gila klo gw keluarin segini padahal klo di reksadana ngendep beberapa tahun bisa jadi segini, padahal klo buat makan bisa bertahan segini lama. bisa buat attan kursus berapa bulan..  terapkan mental ibuk2 yah! demi kemerdekaan bebas dari ikatan bank!

 

Leave a reply

Comment